Tuesday, March 4, 2008

Di sudut kafetaria

Gerimis tiba-tiba turun meruakkan udara segar siang ini,namun kesegaran itu tak mampu membuat hati kami yang panas turut menjadi segar.

Kami duduk berdua di sudut kafetaria kampus,tak berkata-kata sama sekali.Kebisuan itu diiringi oleh suara penyiar radio yang dengan fasih menyampaikan resensi lagu baru dari sebuah band lawas.
Sementara itu dua gelas teh kami sudah mulai menjadi dingin dan tak lagi meniupkan aroma harum.

Kunyalakan sebatang rokokku lalu asapnya kuhirup dalam-dalam sampai memenuhi isi dadaku kemudian kutiupkan asapnya dengan mantap.Spontan kedua tangannya bergerak menutupi hidungnya sebagai pertanda dia merasa terganggu dengan asap rokokku.Aku sendiri menjadi merasa bersalah karena lupa betapa alerginya dia dengan asap rokok..

"maaf.."

kataku sambil memasang raut menyesal dan meniupkan asap rokokku ke arah lain agar tak mengenai wajahnya. Rupanya satu kata itulah yang akhirnya memecah kebisuan kami..

"maaf?Berapa kali lagi kau akan berkata-kata maaf?Bukankah kata itu sudah seringkali kau ucapkan sejak 6 tahun kemarin!"
sahutnya kemudian sambil menggenggam rapat gelas tehnya..

"hey,tentang apa ini??"

tanyaku gemas dan menyadari bahwa dia menganggap lain permintaan maafku.Aku bermaksud meminta maaf karena asap rokokku yang mengganggunya,namun rupanya dia menanggapinya lain..

Dia heran mendengar pertanyaanku..

"ah,jangan pura-pura tidak tahu..Aku tahu alasanmu mengajakku kemari.Kamu ingin memaksaku untuk mengenang masa lalu kita dulu dan berharap cintaku padamu akan tumbuh lagi.Sudahlah ben,jangan terus-menerus memendam perasaan itu.Aku tak akan pernah bisa membalas perasaanmu itu lagi.Saat ini aku sudah mengikat janji dengan orang lain,dan aku tak akan tega mengkhianatinya."

Aku sungguh terkejut mendengar kalimatnya itu sebab aku tak pernah menyangka dia akan sampai hati mengatakan itu.Mungkin ketakutannya akan perasaanku sudah sedemikian memuncak sampai-sampai dia tega mengucapkan kalimat itu.

"sungguh,aku begitu heran dengan apa yang kau katakan barusan.Aku benar-benar tak menyangka kau akan berpikiran seperti itu.Aku mengajakmu kemari karena aku ingin sejenak saja menghabiskan waktuku bersamamu setelah sekian tahun tak bertemu."

ucapku berusaha menyangkal pikirannya.

"namun seandainya kamu memang berpikir seperti itu,baiklah aku mengakuinya.Sampai saat ini aku memang menjaga perasaanku padamu,sekalipun aku tau aku tak punya hak sedikitpun untuk melakukan itu karena sudah ada orang lain yang memilikimu.Namun seperti itulah kenyataannya,aku tetap tak bisa meninggalkan perasaanku.Banyak orang yang menganggap aku bodoh karena terus-terusan menjaga perasaanku,tapi tak masalah bagiku.Karena aku tak akan pernah bisa membohongi hatiku dan memaksanya untuk mencintai orang lain.Tapi kamu tak perlu kuatir,karena aku tak akan mengusikmu lagi.Namun kali ini ijinkanlah aku untuk sekedar menikmati wajah dan suaramu,mungkin untuk yang terakhir kalinya,karena setelah hari ini mungkin kamu tak akan pernah kembali lagi kemari.. Aku hanya ingin kamu tahu aku dengan legowo membiarkan kamu bersamanya.Aku tahu kamu lebih bahagia bersamanya."

dia hanya terdiam..Di radio terdengar sayup-sayup suara yovie and nuno menyanyikan hits barunya.

"...biarkan aku menjaga perasaan ini,menjaga segenap cinta yang telah kau beri..
Engkau pergi aku takkan pergi,kau menjauh aku takkan jauh..."

lalu dia hanya terdiam,dan aku melihat kristal-kristal halus jatuh dari matanya..

"baiklah kalau kau masih tetap keras kepala,aku tak akan memaksamu merubah perasaanmu itu.."

sahutnya sambil mengusap pipinya yang mulai basah oleh air mata..

Aku pun hanya bisa diam sambil menghisap rokokku dalam-dalam,dan ku biarkan mataku berkaca-kaca.

Lalu dua orang berjalan melintas di depan mejaku sambil menatapku kasihan.Aku seolah-olah bisa mendengar mereka membicarakanku..

"kasihan dia,setiap hari dia duduk di sudut kafetaria ini sambil memandangi sebuah foto dan berbicara sendiri..Ditemani dua gelas teh,sepertinya dia telah gila oleh cinta.."

aku pun hanya bisa tersenyum mendengar pembicaraan mereka,dan aku tetap memandangi selembar foto ditanganku..

(CitraLand, 5 maret 2008;12.54)

Pelangi hitam putih

Hujan akan segera berhenti,saat ini sang langit hanya menyisakan rintik-rintik halus yang membentuk tirai-tiRai lembut di tepian cakrawala..

Aku segera terbangun dari tidur malamku ketika hangatnya sinar matahari menembus masuk melalui celah-celah jendela kamarku.

Hangatnya sinar itu membuatku segera berlari menuju seberang ruang kamarku dan membuka lebar-lebar jendela kamarku agar udara segar segera menggantikan pengap di setiap sudut ruangnya.

Ketika kubuka jendelaku,sontak udara segar memenuhi seisi kepalaku,dan cahaya matahari mencairkan otakku yang hampir membeku..Betapa indahnya pagi ini..

"pasti hari ini akan menjadi hari yang sempurna!"

begitu teriakku dalam hati..

Namun sepertinya ada yang kurang,apakah itu?Lalu aku biarkan pikiranku terbang kemana-mana mencari jawabnya..

"Ya,seandainya ada pelangi pagi ini,pasti semuanya akan semakin sempurna.."

teriakku kegirangan ketika pikiranku kembali sambil membawa jawabannya..

Lalu segera kupakai sepatu dan sayapku yang semalaman tergeletak di lantai.Aku akan menemui matahari dan mendesaknya untuk membangunkan pelangi..

Secepat kilat aku terbang melalui jendela kamarku dan tiba-tiba aku sudah berdiri tepat di hadapan sang matahari..

"wahai engkau yang diberi kuasa untuk membagi sinar dan hangatmu pada seluruh makhluk,bagaimana kabarmu?"

demikian aku mengucapkan salamku pada matahari..

"Aku masih tetap setia disini dengan tugasku membagikan kehidupan pada seluruh makhluk,dan aku akan tetap setia sampai selamanya."

"tapi,apa yang membuatmu terbang kesini sepagi ini wahai anak muda?Bahkan mukamu pun belum kau basuh."

"Oh matahari,aku sengaja datang kemari sepagi ini untuk meminta sesuatu padamu,dan kiranya engkau berkenan mengabulkannya."

"apakah itu gerangan wahai anak muda? Katakanlah.."

"Matahari,pagi ini aku terbangun dengan penuh semangat karena ketika aku terbangun aku melihat hari begitu indah,ada gerimis yang membentuk tirai-tiRai halus di tepian cakrawala,ada udara segar yang memenuhi seisi ruanganku,dan cahayamu yang hangat menyentuh permukaan kulitku dengan lembut."

"hmm,benarkah itu?Lantas apakah ada yang salah sehingga engkau berniat memintanya dariku sepagi ini?"

"Tidak,sama sekali tidak ada yang salah dengan itu semua.Hanya saja aku merasa hari ini akan semakin sempurna seandainya ada pelangi,namun aku tak melihatnya pagi ini.Jadi bolehkah aku memintamu untuk membangunkan pelangi?"

"ouh,jadi itu maksud kedatanganmu kemari!Hai anak muda,layangkanlah pandanganmu ke timur jauh sana,tidakkah kau melihat pelangi sudah melayang-layang dengan elok di atas cakrawala?Bukalah matamu!"

lalu kupicingkan mataku menatap ke timur cakrawala jauh,dan samar-samar aku melihat sebuah busur raksasa menggantung di atas awan.

"aha,itulah pelangi!" teriakku kemudian.

"Tapi tunggu dulu,pelangi ini sama sekali berbeda dengan pelangi yang biasanya!Biasanya pelangi selalu memakai gaunnya yang berwarna-warni.Namun kali ini dia berwarna hitam putih seolah sedang berduka,ada apa gerangan yang terjadi?"
tanyaku pada matahari dengan rauT muka menunjukkan keheranan..

"hey anak muda,cobalah buka matamu lebih lebar lagi.Seandainya saja kau mau berdiri lebih dekat lagi dengan pelangi itu,maka kau akan melihat dia dengan warna-warnanya yang sempurna! Ketahuilah,bahwa pelangi itu akan senantiasa memakai warna-warna indahnya,dan tak akan pernah menjadi pelangi hitam putih.Yang membuatmu melihatnya seolah-olah berwarna hitam putih adalah hatimu sendiri!"

"apa maksudmu matahari?"

"Maksudku adalah,kesempurnaan yang engkau harapkan muncul setiap pagi,sebenarnya telah tersedia dihadapanmu,yaitu kesempurnaan yang diberikan oleh warna-warna pelangi.Hanya saja kau tak pernah mau mendekat padanya dan melihat warnanya dari dekat.. Kamu hanya sibuk dengan hitam putihnya duniamu sendiri Sehingga yang kau lihat hanyalah suramnya.."

"ouh,jadi itu maksudmu matahari?"

"iya,itulah yang kumaksud.Apakah kau sudah mengerti?"

"baiklah,aku mengerti.Kalau begitu ijinkanlah aku pergi sekarang ke rumahku dan mengemasi barang-barangku dan tinggal di tempat yang lebih dekat dengan pelangi sehingga aku bisa melihat warna-warnanya dan membuat hari-hariku kian sempurna.."

"baik,pergilah dirimu.Dan sampaikanlah salamku pada sang pelangi..Kembalilah kesini lain kali untuk berbincang-bincang denganku lagi.."

"baik matahari,terima kasih..Sampai jumpa.."

Lalu aku segera terbang lagi menuju kamarku dan tetap melalui jendela yang sama.Sesampainya disana,segera kukemasi barang-barangku dan terbang kembali ke arah timur dan mencari tempat yang lebih dekat dengan pelangi..

Tidak sulit bagiku menemukannya,karena ternyata ada banyak sekali tempat kosong yang bisa aku diami..

Setelah kudirikan rumah baruku,baru aku bisa melihat pelangi itu.Pelangi berwarna-warni..Dan bukan pelangi hitam putih..

Akupun menikmati kesempurnaan itu setiap pagi,namun sesekali aku masih mengunjungi matahari dan berbincang-bincang dengannya dan menikmati secangkir kopi..



"Malang,4 maret 2008 ; 22.30"