Wednesday, December 15, 2010

Sentra Kerajinan Keramik Dinoyo, Masihkah?

Memulai perjalanan ke kawasan sentra keramik Dinoyo, Jl. MT. Haryono, Malang, mata akan segera tertuju kepada sebuah papan bertuliskan ”Pabrik Keramik Dinoyo Malang”. Melihat papan tersebut saya mulai merasa penasaran, sebagai orang asli Malang, saya sama sekali belum pernah membuktikan fakta apakah tempat ini benar-benar layak disebut dengan sentra keramik.

Pernah saya membayangkan, sebagai sebuah sentra kerajinan keramik, apakah kawasan ini seperti halnya dengan kota gede di Yogyakarta yang telah terkenal sebagai sentra kerajinan Perak? Pernah sekali saya kesana, dan memang hampir di sepanjang jalan yang dilalui pasti akan ditemui banyak pengrajin perak yang membuka usahanya baik usaha kecil-kecilan atau yang sudah tumbuh besar dan terkenal.

Saya pun mulai menyusuri kawasan ini dan orang pertama yang saya tanyai tentang keberadaan pabrik keramik yang papan namanya terpampang di sudut jalan raya yang tadi saya lihat adalah seorang penjual rokok. Saya bertanya kepadanya : ”nuwun sewu pak, pabrik keramik Dinoyo Malang itu dimana ya?” lalu dijawabnya sambil menunjuk gedung besar yang tak lagi terawat di belakang gerobak rokoknya: ”wah, wis tutup mas... lha iki kan pabrik’e” (terj : ”wah, sudah tutup mas... lha ini kan pabriknya”) ”lho, kapan tutupnya pak? Kenapa kok tutup?” tanya saya kemudian. ”wah, udah lama tutup mas. Tapi aku gak ngerti kenapa...”

Saya pun kemudian meninggalkan bapak penjual rokok itu setelah berterimakasih sebelumnya atas informasi yang sudah diberikan. Sambil melanjutkan perjalanan kembali ke arah perkampungan, saya berpikir, kalau memang pabrik keramik sudah ditutup sekian lama, lalu kenapa papan namanya tidak dicabut saja?

Begitu memasuki kawasan perkampungan yang dikenal sebagai sentra keramik tersebut, saya memang melihat cukup banyak rumah warga yang membangun usaha penjualan dan pembuatan keramik. Kesimpulan itu saya ambil dari cukup banyaknya papan-papan nama yang dipasang di depan rumah dengan berbagai nama usahanya masing-masing. Tapi sudah terlanjur malam, hampir pukul 10 malam, jadi saya pun tidak bisa melihat kondisi yang sebenarnya karena pastinya semua toko sudah tutup.

Saya pun mulai bertanya pada seorang bapak yang sedang mencuci motor di depan halaman rumahnya. Saya bertanya perihal kawasan ini sebagai sentra kerajinan keramik, tapi nyatanya saya tidak bisa memperoleh banyak informasi yang cukup bermanfaat karena rupanya dia sendiri bukan penduduk asli, namun pendatang. Tapi untungnya dia memiliki informasi tentang siapa yang harus saya hubungi apabila ingin mencari informasi mengenai sentra keramik ini. Bapak itu menyarankan saya untuk mencari seorang kepala RW yang juga menjabat sebagai ketua paguyuban pengrajin keramik.

Namun, karena sudah terlalu larut, saya pun menunda keinginan saya untuk mencari bapak RW yang dimaksudkan oleh bapak tersebut.

* * *

Keesokan harinya, perjalanan kembali saya lanjutkan dengan mencari kediaman pak RW yang dimaksudkan oleh bapak yang sedang mencuci motor semalam. Tidak sulit untuk menemukannya, karena memang ada papan kayu di sebuah rumah yang menunjukkan bahwa sang empunya rumah adalah seorang kepala RW.

Saya beranikan diri untuk mengetuk pintu dan mencari kepala RW yang belakangan saya ketahui bernama Pak Arifin.

Tak lama setelah saya mengetuk pintu, seorang perempuan muda membukakan pintu. Saya utarakan tujuan saya untuk mencari bapak, namun sepertinya saya memang lagi-lagi kurang beruntung karena orang yang saya cari juga sedang tak ada di tempat.

Setelah berpamitan dan berjanji untuk datang di lain waktu, saya pun kemudian memutuskan untuk menyusuri kawasan ini dan menggali informasi sebanyak-banyaknya dari para pengrajin yang bisa saya temui.

Setelah melihat-lihat sejenak, saya memutuskan untuk mendatangi sebuah workshop kerajinan keramik yang belakangan saya ketahui dimiliki oleh pak Suyono. Setelah bertemu dengan beliau, saya pun mulai bercakap-cakap mengenai banyak hal yang berkaitan dengan sentra kerajinan keramik dinoyo.

Setelah banyak bercakap-cakap dengan pak Suyono, saya akhirnya bisa juga mengorek beberapa informasi yang cukup menarik mengenai sentra kerajinan keramik Dinoyo.

* * *

Sentra keramik Dinoyo telah ada sejak tahun 80 hingga 90’an. Pada saat itu mayoritas para pengrajin memilih untuk membuat aneka vas dan guci. Namun pada saat ini kebanyakan mereka lebih memilih untuk membuat aneka souvenir baik untuk pernikahan maupun untuk event-event lainnya. Jumlahnya pada saat itu pun masih cukup banyak, yaitu sekitar 80 pengrajin keramik.

Menurut pak Suyono, para pengrajin keramik tersebut mulanya adalah karyawan dari pabrik keramik besar yang dibangun oleh pemerintah, namun setelah pabrik ditutup, mereka mulai tersebar ke kawasan dinoyo dan betek serta selanjutnya mulai membuka usaha pembuatan keramik sendiri. Dengan diperkenalkannya kawasan ini sebagai sentra kerajinan keramik, tentunya mendatangkan keuntungan tersendiri bagi mereka, sebab keberadaan mereka pun mulai dilirik oleh wisatawan dan para pecinta keramik yang singgah ke kota Malang.

Perubahan besar terjadi ketika terjadi Tsunami Aceh. Akibat bencana dahsyat tersebut, pasar penjualan keramik mulai terganggu khususnya yang menuju ke kawasan Aceh dan Sumatera pada umumnya. Akibatnya, beberapa pengrajin mulai rontok dan menutup usahanya, bagi yang masih bertahan, mereka beralih membuat kerajinan dari gips yang tentu saja kebutuhan modalnya jauh lebih kecil.

Banjir yang sering terjadi di Jakarta pun mau tak mau juga menyebabkan perekonomian para pengrajin keramik ini lesu, sebab penjualan mereka ke ibukota juga terganggu akibat transportasi yang tidak memadai.

Perubahan besar lainnya selanjutnya juga muncul setelah pemerintah mengeluarkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas. Secara drastis, kebijakan ini membuat banyak pengrajin gulung tikar atau beralih menjadi pengrajin gips. Hal ini memang dapat dimaklumi, sebab tentunya tak lagi mudah untuk mendapatkan minyak tanah sebagai bahan bakar tungku pembakaran keramik, sementara untuk menggunakan gas, tentunya dibutuhkan dana yang cukup besar, sebab untuk proses pembakaran keramik memang membutuhkan waktu yang tidak singkat. Apalagi kualitas yang dihasilkan pun juga berbeda. Dengan tungku pembakaran yang menggunakan bahan bakar minyak tanah, panas pembakaran yang dihasilkan bisa menjadi lebih maksimal, sebaliknya, dengan menggunakan gas, panas yang dihasilkan menjadi tidak maksimal dan kualitas keramik menjadi menurun.

Hal ini pada akhirnya berujung pada gulung tikarnya beberapa pengrajin keramik hingga pada saat ini hanya terdapat beberapa saja yang masih bertahan. Pada titik ini kondisi berbalik besar, lebih banyak pengrajin gips daripada pengrajin keramik. Sayang sekali...

* * *

Hal ini tentunya harus menjadi perhatian pemerintah kota Malang pada khususnya. Sebagai warga Malang tentu saja saya berharap agar geliat kerajinan keramik di tempat ini dihidupkan kembali, sehingga nantinya tempat ini tidak menjadi sentra kerajinan Gips.

Banyak hal yang bisa dilakukan oleh pemerintah, namun yang paling utama adalah bantuan modal pada para pengrajin dan tentunya promosi yang lebih baik lagi. Toh, kalau saja tempat ini dihidupkan kembali, pastinya juga pemerintah yang diuntungkan dengan semakin berkembangnya geliat pariwisata kita...

Atau jangan-jangan kita sudah terlalu malas untuk sekedar mengganti papan nama pabrik keramik yang sudah ditutup dengan papan nama yang lain yang lebih menguntungkan bagi promosi area ini??

Korupsi; Peran Media, dan Masyarakat

Senin, 8 maret 2010, perusahaan konsultan “Political & Economic Risk Consultancy” (PERC) yang berbasis di Hongkong, merilis hasil survei mengenai negara-negara terkorup di kawasan Asia Pasifik. Hasil survei ini didasarkan atas pandangan eksekutif bisnis yang menjalankan usaha di 16 negara terpilih dengan total responden sebanyak 2174 orang dari berbagai kalangan eksekutif kelas menengah dan atas di Asia, Australia, dan Amerika Serikat. Negara Asia Pasifik yang disurvei adalah negara yang memiliki kemajuan ekonomi cukup pesat di kawasannya dalam beberapa tahun terakhir.

Hasil survei ini menempatkan Indonesia di peringkat pertama sebagai negara terkorup, berikutnya diikuti oleh Kamboja, Vietnam, dan Filipina pada peringkat kedua, ketiga, dan keempat. Sementara itu Singapura, Australia, Hongkong, dan Amerika Serikat merupakan empat negara yang dalam penilaian PERC merupakan negara paling bersih dari tindakan korupsi yang pada posisi pertama ditempati oleh Singapura.

Di tengah-tengah hingar-bingar upaya pemberantasan korupsi di Negeri ini yang gencar dikampanyekan oleh para pemimpin bangsa, munculnya hasil survei ini merupakan sesuatu yang sangat memilukan, apalagi berita ini muncul tak lama setelah SBY menyatakan dirinya akan berada di barisan paling depan dalam upaya pemberantasan korupsi. Alih-alih menurunkan korupsi, berbagai kasus yang terjadi justru semakin mencerminkan bahwa pemerintahan SBY belum bisa secara maksimal melakukan penanganan korupsi.

Pada tahun 2008, Indonesia berada di posisi ketiga dengan tingkat korupsi sebesar 7.98 dari angka 10 setelah Filipina yang tingkat korupsinya sebesar 9,0 dan Thailand yang memiliki tingkat korupsi sebesar 8,0.

Selanjutnya, pada tahun 2009 angka tingkat korupsi ini menjadi semakin tinggi. Pada tahun terakhir masa pemerintahan SBY-Kalla ini, indonesia berhasil menyabet prestasi sebagai negara terkorup dari 16 negara yang disurvei oleh PERC dengan nilai korupsi 8,32 yang kemudian disusul oleh Thailand (7,63), Kamboja (7,25), India (7,21), dan Vietnam (7,11).

Oleh karena itu, dalam rentang waktu 2008 hingga 2010, peringkat korups Indonesia meningkat dari 7.89 pada tahun 2008, 8,32 pada tahun 2009, dan kembali meningkat menjadi 9,07 pada tahun 2010 dibandingkan dengan 16 negara Asia Pasifik lainnya. Hasil ini kemudian semakin menunjukkan bahwa selama 2 tahun terakhir pemerintahan SBY, indonesia mendapat citra yang negatif dalam hal penanganan korupsi.

Kekurangseriusan pemerintahan SBY dalam penanganan korupsi jelas terlihat dari terjadinya kasus kriminalisasi KPK. Dari meledaknya kasus ini, rakyat mulai kehilangan kepercayaan terhadap kinerja pemerintahan SBY dalam memberantas korupsi. Belum lagi, di arus bawah masyarakat juga merasakan sendiri bagaimana perilaku korupsi tumbuh dengan subur di daerah-daerahnya masing-masing.

Pada saat meledaknya kasus kriminalisasi pimpinan KPK tersebut, media-media memberitakannya secara besar-besaran sehingga masyarakat sendiri bisa menilai dengan kacamatanya masing-masing apa yang sebenarnya terjadi. Namun, selama beberapa saat, isu ini mulai teralihkan dengan berita mengenai tindakan-tindakan teroris yang ditengarai mengincar SBY sebagai korban berikutnya.

Selanjutnya, pada akhir tahun 2009, perhatian masyarakat mulai beralih pada kasus bailout bank Century yang pada bulan Februari 2010 akhirnya diputuskan melalui sidang paripurna DPR bahwa tindakan tersebut merupakan tindakan melanggar hukum yang merugikan negara. Selain itu, di benak masyarakat masih banyak yang percaya bahwa aliran dana bailout bank Century juga mengalir ke partai Demokrat dalam rangka menyukseskan pemilihan SBY sebagai presiden dalam Pemilu 2009-2014.

Namun, tak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, begitu kasus ini mulai bergerak ke ranah hukum, perhatian kita kembali teralihkan oleh isu tertangkapnya kelompok teroris di Pamulang yang diduga merupakan kelompok Dul Matin. Ketika peristiwa ini meledak, kembali media secara gencar menginformasikan peristiwa ini kepada masyarakat. Maka, perhatian masyarakat mulai teralihkan dari penanganan kasus Century dan tentu saja banyak masyarakat yang tidak terlalu mempedulikan hasil survei dari PERC di atas.

Lantas, ketika terjadi hal yang seperti ini, apakah bisa di katakan bahwa setiap kali muncul isu korupsi yang melanda lingkaran kekuasaan SBY, terjadi pengalihan isu?

* * *

Maka, dalam hal ini kemudian Media kembali memegang peranan penting untuk tetap mengawal penanganan korupsi di negeri ini. Memang bisa disadari bahwa dimanapun media akan selalu mencari berita yang paling aktual. Namun harus disadari pula bahwa media juga berperan penting untuk menginformasikan kepada masyarakat sejauh mana pemerintahan telah bekerja keras mewujudkan negara yang bersih dari korupsi.

Teristimewa dalam kasus bank Century, ketika kasus ini mulai ditangani oleh aparat penegak hukum, media tetap memiliki peran penting untuk mengawalnya sehingga masyarakat bisa memahami siapa yang sebenarnya berada di balik kasus ini. Hal ini tentu saja sejalan dengan ketentuan dalam UU nomer 40 Tahun 1999 tentang pers, bab II, pasal 3 ayat 1 yang menyatakan bahwa Pers Nasional mempunyai fungsi sebagai media informasi, pendidikan, dan kontrol sosial.

Dengan pemberitaan yang cukup gencar terhadap kasus-kasus korupsi, diharapkan selanjutnya akan membuat para koruptor kapok untuk menjalankan aksinya lagi. Dengan begitu pula, kontrol masyarakat bisa berjalan secara efektif. Sebab tanpa adanya kontrol penuh dari masyarakat, penanganan korupsi di negeri ini tak mungkin akan bisa berjalan secara tuntas. Sebaliknya, masyarakat tak akan bisa melakukan kontrol apabila tidak mendapatkan informasi yang akurat dan lengkap.

Keberadaan media tentu saja merupakan satu unsur kecil saja yang berperan dalam penanganan korupsi. Justru yang paling penting dari itu adalah komitmen pemerintah untuk secara serius menangani korupsi dari akar-akarnya melalui penegakan hukum yang dapat menimbulkan efek jera bagi para pelakunya.

Begitu pula dengan masyarakat, budaya anti korupsi harus benar-benar di kampanyekan sejak dini di segala lapisan. Tidak hanya dengan aksi-aksi simbolis yang dijalankan sekali saja namun tidak diikuti dengan tindak lanjut yang jelas. Aksi-aksi simbolis semacam kantin kejujuran bisa dikatakan adalah sebuah pendidikan anti korupsi yang berefek jangka pendek, sebab tidak didukung pula oleh pendidikan yang terus menerus mengenai korupsi.

Pada akhirnya, semua elemen masyarakat diharapkan dapat bekerja secara konsisten dan jujur untuk turut serta dalam aksi pemberantasan korupsi di segala bidang. Dengan begitu maraknya aksi koruspi dapat ditekan seminimal mungkin sehingga Indonesia tak terus menerus berada di peringkat pertama sebagai negara paling korup.

Atau, seperti dulu Almarhum Gus Dur pernah mencanangkan hari pertobatan nasional, mungkin tindakan itulah yang penting untuk dijalankan saat ini. Dengan begitu, selanjutnya kita akan berani mengatakan tidak pada korupsi.

peran pemerintah dan swasta dalam optimalisasi pelayanan publik

Di negara yang sedang berkembang seperti di Indonesia, kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada kemampuan mereka dalam mengakses dan menggunakan pelayanan publik, akan tetapi permintaan akan pelayanan tersebut umumnya jauh melebihi kemampuan pemerintah untuk dapat memenuhinya.

Sebaliknya, pemusatan segala urusan publik hanya kepada negara, pada kenyataannya hanya sebuah retorika, sebab urusan pelayanan publik yang demikian kompleks, mustahil dapat dikerjakan semua hanya oleh pemerintah.

Menurut Miftah Thoha, pelayanan publik dapat dipahami sebagai suatu usaha oleh seorang/ kelompok orang, atau institusi tertentu untuk memberikan kemudahan dan bantuan kepada masyarakat dalam rangka mencapai tujuan tertentu (1991).

Hanya saja, dalam rangka melakukan optimalisasi pelayanan publik yang dilakukan oleh birokrasi pemerintahan bukanlah tugas yang mudah mengingat usaha tersebut menyangkut berbagai aspek yang telah membudaya dalam lingkaran birokrasi pemerintahan. Oleh karena itu kemudian peran swasta sangat diharapkan untuk melengkapi pemerintah dalam menciptakan kualitas pelayanan publik yang optimal.

Keterlibatan swasta dalam optimalisasi pelayanan publik tentu saja sangat mendukung dalam pencapaian tujuan besar yaitu Good Governance, dalam konsep Good Governance, peran masyarakat dan sektor swasta menjadi sangat penting karena adanya perubahan paradigma pembangunan dengan meninjau ulang peran pemerintah dalam pembangunan, yang semula berperan sebagai regulator dan pelaku pasar, menjadi bagaimana menciptakan iklim yang kondusif dan melakukan investasi prasarana yang mendukung dunia usaha. Tentu saja hal ini bisa diwujudkan apabila masyarakat dan sektor swasta sendiri sudah memiliki kapabilitas yang memadai.

Hal ini kemudian bisa dipahami bahwa pemerintah, khususnya di negara-negara ketiga, kini tak lagi mendominasi atau memonopoli peran penyediaan pelayanan publik yang bermutu. Maka, konsep ini tentu saja berbeda dengan kondisi yang terjadi pada era sebelum tahun 1970-an dimana pada masa itu konsep demokrasi yang berlaku di berbagai negara masih terkesan otoriter. Beberapa contohnya adalah yang terjadi di Argentina, Brazil, Chile, Filipina, korea selatan, Nigeria, Pakistan, Thailand, Uruguay, Yunani dan sebagainya pada dasawarsa 1960 dan awal 1970-an. (Mas’oed, 2003).

Lain halnya, Di Indonesia sendiri aroma otoriterianisme sangat kental terasa pada masa pemerintahan Orde Baru. Pada saat itu, salah satu contohnya adalah terjadinya penataan kembali organisasi perburuhan. Penataan tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga organisasi buruh pada akhirnya tak lebih dari kepanjangan tangan pemerintah orde baru yang merepresentasikan tujuan-tujuan ekonomi dan politik negara orde baru.

Penataan gerakan buruh Indonesia pada masa Orde Baru dibagi ke dalam 3 fase, yaitu fase 1966 hingga 1970-an sebagai fase pelarangan terhadap segala bentuk pengorganisasian serikat buruh, karena hampir semua serikat buruh adalah produk afiliasi partai politik sayap kiri atau yang beraliran komunis.

Fase kedua yang teradi pada awal 1970-an hingga 1990-an adalah pengambilalihan terhadap seluruh kekuatan Serikat buruh di bawah kendali Golkar dan Militer. Pada tahap ini, politik perburuhan Orde Baru berjalan secara relatif moderat dimana serikat buruh diperbolehkan muncul di bawah kendali ketat negara. Politik pengendalian dan pengawasan bahkan berlangsung hingga di tempat kerja dengan mengintervensi proses pemilihan pemimpin serikat buruh, membatasi kenaikan upah, dan menghindari tumbuhnya serikat buruh Krisis Radikal.

Fase ketiga berlangsung pada tahun 1990 hingga 1998 dimana kebijakan ekonomi pasar menjadi kedok pemerintah untuk melanjutkan eksploitasi atas buruh dengan memperkenalkan konsep Hubungan Industrial Pancasila. Perangkat ini dimaksudkan sebagai instrumen guna memperkuat kontrol negara terhadap buruh yang diselaraskan dengan tuntutan negara terhadap buruh yang diselaraskan dengan tuntutan negara kreditor yang meminta agar pemerintah lebih memperhatikan hak-hak buruh. (Jurnal Sosial Demokrasi, vol 7. No.2 September – Desember 2009)

Berakhirnya era orde baru pada tahun 1998 yang kemudian digantikan oleh orde reformasi, praktis kemudian menyebabkan lahirnya banyak sekali organisasi-organisasi buruh yang menampung kepentingan buruh. Hal ini didukung pula oleh berbagai regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintahan Habibie maupun Gus Dur melalui berbagai produk perundang-undangan. Keberadaan organisasi-organisasi buruh inilah yang selanjutnya bisa diartikan sebagai salah satu elemen swasta (non government) yang berdiri secara independen untuk mewujudkan kesejahteraan kaum buruh dan pekerja melalui kemampuan mengakses pelayanan publik yang ada.

Namun, hal ini bukan pula berarti bahwa selama pemerintahan orde baru, tidak ada sama sekali sektor swasta yang berdiri di luar pemerintahan, sebab sejak tahun 1970-an, mulai muncul komunitas bisnis dan para aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Masalah perekonomian yang terjadi pada era 1980-an menghadapkan pemerintahan pada keharusan struktural untuk memberi perhatian lebih besar kepada kelompok bisnis hilir yang menghasilkan barang-barang konsumsi untuk pasar domestik maupun internasional. Hal ini ditunjukkan dengan adanya pengakuan resmi terhadap KADIN pada tahun 1987 sebagai satu-satunya saluran komunikasi antara pemerintah dan pengusaha yang juga melambangkan sikap pemerintah yang akomodatif. KADIN pun kemudian diharapkan bisa menjadi suatu badan yang memperjuangkan dunia usaha dan bukan sekedar organisasi yang dijalankan oleh pemerintah.

Sementara itu, di ranah sosial, lahirnya LSM-LSM di masyarakat yang bergerak di berbagai bidang seperti hukum, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan masyarakat desa dan lain sebagainya juga cukup memberikan sesuatu yang positif bagi masyarakat. Dalam bidang pembangunan misalnya, mereka mampu mengajukan suatu alternatif terhadap program pembangunan yang cenderung sentralistis. Alternatif itu disebut sebagai ”pembangunan partisipatoris”, suatu program pembangunan yang dirancang dengan rakyat sebagai subyek dari proses pembangunan.

Dalam negara yang harus menghadapi krisis ekonomi dunia dan semakin menipisnya sumber daya, LSM dapat menawarkan jasa yang menarik. Mereka dapat membantu pemerintah menyelesaikan masalah-masalah pembangunan masyarakat desa dengan cara memobilisasi sumber daya lokal untuk digunakan secara produktif. Selain itu LSM juga memiliki potensi untuk membangun suatu jaringan internasional yang dapat dimobilisasikan untuk mendukung perjuangan mereka di dalam negeri. Dengan demikian, LSM menjadi salah satu faktor penting dalam proses pembangunan. (Mas’oed, 2003).

Selain itu, tentu saja masih ada banyak sekali berbagai contoh peran swasta dalam usaha pencapaian pelayanan publik yang optimal dan mensejahterakan rakyat. Namun, pada intinya peran swasta pada saat ini memiliki fungsi yang sangat strategis baik sebagai agen kontrol terhadap pemerintah maupun sebagai pelengkap fungsi pemerintah yang tidak mampu secara optimal menyediakan fasilitas pelayanan publik di berbagai bidang. Sementara itu, dengan semakin meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai demokrasi, maka pemerintah juga tidak lagi memiliki superioritas mutlak untuk mengendalikan keberadaan sektor swasta apalagi melalui tindakan-tindakan represif. Maka dapat disimpulkan, pada titik ini pemerintah tak lagi memegang dominasi atau monopoli penuh terhadap penyelenggaraan perekonomian, politik, sosial, dan pelayanan publik.

Referensi :

  1. Mas’oed, Mochtar, 2003; Negara, Kapital, dan Demokrasi; Yogyakarta: Pustaka Pelajar
  2. Launa, 2009. Buruh dan Kemiskinan. Dalam Jurnal Sosial Demokrasi, vol.7 no.2 September-Desember 2009; 25 - 43

Dia Berenang Terus

Karya : Badaruddin Amir

Dia berenang terus. Kini sudah enam jam dia berenang dalam kegelapan malam. Tak tahu sudah berapa mil jauhnya dia berenang. Namun garis pantai belum juga kelihatan. Sesekali dia mendongak ke langit. Gelap menyelubung sempurna. Tak ada bintang. Apakah hujan juga akan turun? Ya Tuhan, neraka apakah yang Kau kirim pada hamba-Mu, si nelayan celaka ini? Gumamnya

Dia merasakan kedua pergelangan tangan dan kakinya sudah mulai kaku dan dingin telah merasuk ke tulang sumsumnya. Tapi mau apa lagi. Dia harus berenang terus hingga ujung jarinya menyentuh pasir pertama di daratan. Pertanda bahwa dia sudah terdampar di sebuah pantai. Atau, dia harus berhenti berenang dan menyerahkan seluruh nasibnya pada kebuasan lautan. Dia akan megap-megap sebentar sampai paru-paru dan seluruh rongga tubuhnya terisi air asin. Lalu lemas tak berdaya. Setelah itu, innalillahi wainnailaihi rojiun. Nyawanya akan segera terbang meninggalkan tubuhnya terapung-apung di lautan, menjadi rebutan ikan-ikan buas yang mungkin telah mengincarnya sejak terjungkir dari perahunya yang meledak.

Dia menggigil. Dia tidak habis pikir kenapa musibah itu terjadi. Perahunya meledak di tengah lautan saat dia sedang mengangkat pukat untuk berkemas pulang. Padahal seingatnya dia tidak pernah menyimpan bahan peledak di perahunya. Apalagi menggunakanya sebagai alat untuk menangkap ikan. Dia takut pada bahan peledak, pada bom ! Karena dia tahu cara seperti itu tidak halal dan penuh risiko. Sudah banyak temannya, pelaut muda sekampung, telah jadi korban. Ada yang tertangkap polisi karena ketahuan menggunakan bahan peledak lalu meringkuk dalam penjara beberapa tahun lamanya. Ada pula yang mengalami nasib lebih tragis lagi; meledak bersama perahunya sampai tubuhnya berantakan jadi serpihan-serpihan daging yang tak utuh lagi. Namun yang aneh, mereka tak pernah jera. Penggunaan bahan peledak sebagai alat untuk

Dia pernah jengkel pada juragannya Dul Hamid, yang saban datang ke rumahnya memaksa-maksanya agar dia menggunakan bom untuk menangkap ikan. Katanya itu cara yang paling cepat, praktis dan sangat mudah untuk mendapatkan banyak ikan tanpa mengeluarkan biaya terlalu besar. Modalnya cuma keberanian. Ya, keberanian membakar sumbu dengan puntung rokok yang masih menyala, lalu melemparkannya tepat pada sasaran. Maka beribu-ribu ikan yang asyik berenangan akan segera bergelimpangan. Pekerjaan selanjutnya tinggal melompat ke laut memungutnya. Atau kalau mau lebih aman, boleh juga menggunakan pemicu batere atau accu. Sumbunya tak perlu dibakar tapi akan meledak sendiri seperti bom waktu setelah terjadi hubungan pendek.

“Kamu tak mau keluargamu hidup layak sebagaimana nelayan lain ?” desak Dul hamid setiap datang ke rumahnya.

“Mau Juragan, tapi saya takut menggunakan bom. Itu kan dilarang !”

“Alah, takut apa heh ? Lihat Naim, baru dua kali turun ke laut cicilan perahunya langsung dia lunasi. Itupun masih ada yang sisa untuk keluarganya. Sekarang semua penghasilannya sudah menjadi miliknya. Harga ikannya tidak perlu saya ganggu lagi untuk bayar cicilan perahunya!”

”Saya takut ketangkap polisi, atau....”

“Ala, polisi itu kan punya perut juga. Bisa diatur asal ada ini !” Juragan Dul Hamid menggeser ibu jari dan telunjuknya. “Kamu kan sering lihat bagaimana saya menyelesaikan persoalan kecil seperti itu. Buat apa saya jadi juragan kalau tidak bisa melindungi kalian. Tidakkah kamu berpikir kalau kamu ditangkap polisi, padahal cicilan perahumu belum lunas, itu berarti saya yang pertama menanggung kerugian. Dan coba lihat keadaan keluargamu sekarang. Anakmu saja tidak bisa meneruskan sekolahnya seandainya istrimu tidak merengek-rengek minta bantuan kepadaku. Jadi cobalah berpikir seperti nelayan lain. Jangan sok alim, sok patuh pada hukum. Polisi-polisi itu saja sendiri sudah menjual hukum. Mengapa kita tidak menjadi pembeli dengan keuntungan yang sudah jelas berlipat-lipat?!”
“Tapi tidak semua polisi kita bermental begitu, Juragan. Yang tak mempan disogok masih banyak. Lagian, saya memang takut pada risikonya, Juragan. Kalau boleh, biarlah saya bekerja keras melaut siang-malam mencari ikan dengan pukat, agar saya dapat membayar cicilan perahu saya asalkan....”

“Alaah , dasar nelayan pengecut kau. Sampai mati kau tidak akan bisa kaya !” umpat juragan Dul Hamid

Dan dia ingat betapa jengkelnya pada Surti istrinya, saban Dul Hamid yang sudah beristri dua itu datang ke rumahnya, lalu istrinya menyambutnya berlebihan. Dia seperti ingin menampar Surti, memakinya sebagai perempuan jalang. Apalagi bila Surti sudah bergenit-genit pula pada Dul Hamid.

Dalam perjuangannya melawan maut di tengah malam buta itu, dia seperti melihat istrinya sendiri menjelma menjadi “malaikalmaut”, mengancamnya dengan palu godam agar segera mempercepat kematiannya. Tapi dia bertahan terus. Berenang terus melebihi batas kemampuannya, menuju ke titik entah. Dia tidak peduli lagi apakah arah yang ditujunya adalah sebuah pantai atau justru semakin membawanya ke tengah laut yang lebih ganas.

Dia bersyukur karena masih merasakan tangannya bergerak. Demikian pula kakinya. Maka dia pun mengikuti nalurinya. Berenang terus sambil membayangkan garis pantai berada sepuluh meter lagi di depannya. Celakanya, malam yang tanpa bintang sedikitpun tak menampakkan silhuet bayangan daratan sehingga dia hanya memperkirakan arah yang ditujunya adalah pantai, berdasarkan pengalamannya sebagai pelaut yang telah akrab dengan gelombang. Dia yakin tidak salah arah. Tapi dia masih tak mengerti mengapa perahunya meledak malam-malam di tengah lautan saat dia sudah berkemas hendak pulang. Dia mencurigai mesin perahunya. Tapi apa mungkin mesin perahunya yang masih baru itu bisa meledak? “Tidak, saya tidak mau mati konyol dalam keadaan yang mengerikan di malam buta seperti ini. Saya mesti mencapai pantai. Saya harus mencapai pantai” batinnya sambil terus berenang.

Tapi sekuat-kuat dia berenang kemampuan tetap ada batasnya. Setelah sekian mil dia berenang, dia sudah mulai kehilangan tenaga. Bayangan-bayangan mautpun segera menyerbu benaknya. Dia melihat istrinya Surti melumatnya dengan palu godam. Dia membenci Surti seperti dia membenci juragan Dul Hamid. Dengan nalurinya sebagai suami, dia merasa kedua orang ini telah menjalin hubungan gelap di belakangnya saban dia pergi melaut. Namun dia tidak dapat membuktikannya. Soalnya, siapa pula yang dapat membuktikan sebuah borok yang dibungkus rapi. Tapi perlakuan Surti yang semakin aneh dan dingin pada malam-malamnya di ranjang, dan sambutan-sambutan Surti yang semakin berlebihan saban Dul Hamid ke rumahnya memperkuat kecurigaannya.

Seandainya saja dia mengetahui bahwa juragan Dul Hamid sering menyantroni istrinya saat dia berada di laut, maka pilihannya memang tidak akan pulang-pulang lagi. Dia akan pergi! Pergi melabuhkan nasib pada ombak sebagai bentuk perlawanan dan kekalahan. Atau dia akan membiarkan dirinya sekarang tenggelam tanpa perlawanan. Membiarkan ikan-ikan buas memakan dirinya secuil demi secuil sampai yang sisa tinggal tulang belulang. Tapi Tini, oh Tini anaknya yang masih kelas empat SD dan sedang manja-manjanya itu selalu dirindukannya. Anak itu menjadi tumpuan harapan dan kasih sayangnya, yang selalu memanggil-manggilnya pulang ke darat saat matahari di barat sudah merah bagai tomat raksasa masak penuh-penuh*. Setiap dia teringat Tini anaknya, dia akan segera pulang mengikuti isyarat elang laut yang pulang ke sarangnya setelah senja turun. Dan kini, dalam kepungan maut, dia melihat Tini anaknya melambai-lambai di pantai belakang rumahnya, memanggil-manggilnya...

“Kalau ditakdirkan mati, mati di darat dan mati di laut bagiku sama saja, karena laut dan darat serta diriku se1uruhnya adalah milik-Mu jua. Tapi kalau boleh aku meminta, ya biarlah hamba-Mu mati dekat pantai agar mayatku menjadi urusan bagi orang-orang yang menemukannya. Aku berharap anakku Tini masih bisa melihat wajah kaku ayahnya sebelum orang-orang mengusungnya ke kubur...” demikian harapnya teriring doanya.

Saat dia tak dapat lagi menggerakkan tangan dan kakinya karena telah kehabisan tenaga, badannya melemas. Pelan-pelan diapun terhisap gravitasi bumi. Tenggelam. Namun tiba-tiba kesadarannya pulih tatkala ujung kakinya menyentuh lumpur. Dia kaget. Gembira. Tak percaya. Dan entah dari mana dia memperoleh sisa-sisa tenaga, dia menyauk segenggam lumpur lalu muncul lagi ke permukaan dengan mulut menyemburkan air seperti ikan paus. Saya selamat, pikirnya megap-megap.

Dingin lumpur pada genggamannya menyadarkannya bahwa dia benar-benar tak berhayal, tak bermimpi di ujung nyawa yang sekarat. Daratan sudah dekat Barangkali tinggal beberapa meter di depannya. Dan andaikata ada cahaya kilat, atau fosfor laut yang memantul ke darat maka dia sudah dapat melihat hijau daun atau bayangan karang atau apa saja yang ada di pulau itu. Dia yakin betul, dia kini sudah terdampar di sebuah pulau. Diapun menggapai-gapai untuk mencapai pantai pulau itu. Setelah agak dangkal dia mencoba berdiri. Sempoyougan seperti orang kelewat mabuk. Namun belum sempat melangkahkan kakinya dia tersungkur tak sadarkan diri. Dia roboh persis di garis pantai pulau itu. Di pertemuan antara air dengan darat. Lidah ombak menjilati kakinya yang pucat.

Seekor ketam dan seekor umang-umang yang kehilangan rumah, segera berlomba membuat sarang di saku celananya yang koyak-moyak. Angin daratpun bertiup membawa aroma kemboja. Di timur, jingga langit pertama mulai muncul.

Tak ada yang tahu bahwa di pantai sebuah pulau tak berpenghuni itu, seorang nelayan muda terdampar dan kini tengah meregang nyawa yang memaksa lepas dari jasadnya. Juga Tini anaknya yang sedang dikeloni sang nenek di desanya tak tahu. Juga Surti istrinya, yang pagi itu masih berbaring loyo di sebuah kamar mewah dalam pelukan juragan Dul Hamid, tak pernah membayangkan nasibnya.

“Kalau alat itu bekerja dengan baik, maka kini si tolol itu sudah terkubur di laut !” gumam Dul Hamid sambil melirik arloji rolexnya sebentar, lalu menjelajahkan lagi kumisnya di bawah telinga Surti pagi itu.

Benak Surti mengunyah-ngunyah kalimat itu.”Apa Maksudmua?” tanyanya.

“Ya, si tolol itu, suamimu. Dia kini pasti sudah terkubur di laut. Benda yang kusuruh pasang di buritan perahunya kemarin itu adalah bom !”

Surti sontak kaget. Dia seperti melihat bom itu kini meledak di depannya. Dia memukul-mukul dada Dul Hamid. Tapi Dul Hamid segera menangkap kedua tangannya. Kemudian memeluknya erat-erat sehingga Surti tak berkutik.

”Sudahlah, sudahlah. Aku kan sudah janji akan segera mengawinimu. Dan kalo kau sudah kawin denganku nanti, kaulah yang akan tinggal di rumah ini !” bujuk Dul Hamid seperti membujuk anak kecil yang cengeng.

Surti terisak-isak. Ada penyesalan hinggap di hatinya telah berkhianat membantu Dul Hamid mencelakakan suaminya sendiri. Dialah yang meletakkan bom itu di buritan perahu suaminya atas perintah Dul Hamid.

* * *

Aku, Bapak, dan Setan

Karya : M. Risman Halawa

“Apa yang kamu pikirkan?”

“aku ingat mama, mama pasti sendirian di sana. Harusnya semua berkumoul merayakan Paskah”

”Kamu lupa Dani. Disana mama tidak sendirian. Ada malaikat, ada nenek, ada paman Sakhi, ada .....”

”Tapi kata orang-orang, mama meninggalnya tidak seperti yang lain. Makanya ia tidak bisa ke surga. Cuma melayang-layang di atas rumah. Duduk disana sambil menangis”

”kata siapa itu?”

”Banyak. Juga ada dalam buku yang bibeli Tente Liana. Malah kata Aroni, mama itu jadi hantu gentayangan. Ia yang sering mengganggu orang-orang”

”Huss, jangan bilang begitu. Aroni itu anak nakal!”

”Katanya lagi, itu hukuman bagi orang-orang jahat”

”Dasar nakal, itu tidak benar, Dani. Itu Cuma takdir”

”Takdir? Memangnya takdir itu siapa yang buat?”

”Tuhan!”

”Berarti Tuhan itu jahat. Ia buat mama menderita. Mengapa Ia lakukan semua itu?”

”Tuhan itu besar, Dani. Kita sekarang tidak mengerti, tetapi suatu saat akan tahu, Tuhan itu adil”

”Ah, sebaiknya aku jadi setan saja”

”Setan?”

”Ya, setan. Setan yang amat besar. Kuat. Aku akan datang sama mama. Minta maaf. Aku yang buat semua ini. Lalu kuajak dia kepada Tuhan, agar mama bisa ke surga. Mama tidak bersalah apa-apa. Bapak yang harus dihukum. Bukan mama”

”Mengapa setan? Bukan malaikat?”

”Malaikat itu pembantu Tuhan. Ia pasti tidak berani melawanNya”

”Memangnya kamu akan melawan Tuhan?”

”Ya, itu jika mama tidak diizinkan ke surga”

”Ha....... Ha.......”

”Mengapa tertawa?”

”Tuhan pasti marah”

”Biar. Tapi kata nenek, setan baru dihukum jika dunia kiamat. Masih lama. Nanti dekat-dekat kiamat, aku datang sama pendeta. Minta ampun”

”Ha....ha....

* *

Anak-anak tampak berlarian di ruang makan. Sesekali terdengar suara Bunga, istriku, menegur mereka. Lalu terdengar lengking tertawa Biar –anak bungsuku-saat melihat Andi, abangnya terjatuh. Sekarang belum pukul enam sore. Langit sudah gelap. Bekas-bekas hujan sepanjang hari tadi masih menggenangi jalan-jalan Gunungsitoli. Aku sedang memikirkan apa harus ke rumah sakit atau tidak.

Ini mengenai bapak. Laki-lak yan telah saya hapus dalam ingatanku. Seorang yang telah menghabiskan waktunya dalam pengapnya penjara. Entah kapan di bebas. Menurut cerita Kara, adikku, bapak menjadi gelandangan selepas dari penjara. Ia tidur di gardu-gardu penjagaan, makan dari sisa makanan yang dibuang di depan ruma makan. Kondisinya menyedihkan.

Suatu hari, tanpa sengaja, Kara dan laki-laki gelandangan itu saling berdiri di depan kuburan mama pada hari peringatan hidup yang kekal. Pada saat itu, biasanya orang-orang Nias datang ke kuburan keluarga yang dicintainya. Merek amembersihkannya, berdoa dan memeberi pesan bahwa yang ditinggali tetap mengenang mereka.

Kara mendramatisasi cerita pertemuan itu. ”Laki-laki itu tiba-tiba terdudk. Ia menjerit, menangis menyebut nama mama”, katanya. Aku tertawa. Lebih tertawa lagi ketika Kara mengatakan bahwa ia membawa bapak ke rumahnya, dan ia mau bertemu denganku. Natal kemarin, Kara meminta aku ke rumahnya untuk bertemu bapak. Tetapi aku malah keluar kota bersama Bunga dan anak-anakku.

Kini Kara kembali datang dengan sebuah pesan. Bapak sakt. Ia sedang dirawat di rumah sakit. Menurut dokter harapan hidupnya sangat kecil. Ia ingin berbicara denganku. Sangat. Katanya, bapak mau minta maaf.

”Maaf?” seruku sambil menatap tajam Kara dan Bunga.

”Ia telah menghanacurkan hidup mama, Kara. Ia membat kita hidup tanpa dua orang tua yang seharusnya membesarkan kita!”

”Saya tahu itu, Dani,” kata Kara. ”Tapi itu sudah lama. Bapak telah menjalani hidup di penjara lebih sepuluh tahun. Menderita di jalanan. Saya pikir sudah terlalu cukup untuk menghukumnya”

”Kamu tidak tahu apa-apa, Kara. Kamu bahkan tidak ingat wajah mama. Sedangkan aku tiap hari menyaksikan bapak menganiaya mama. Menganiaya, Kara, bukan memukul saja”

”Dani, jangan berlebihan”

”Tak ada yang berlebihan. Aku Cuma menjelaskan, bapak menhajar mama sepulang dia mabuk berat. Aku bersembunyi ketakutan di sudut ruangan. Ia memukul mama hampir tiap hari. Bapak itu gila. Ia sakit jiwa. Semua itu saya saksikan. Dan kamu harus ingat, kita kehilangan mama karena bapak”

Semua menjadi hening. Tapi saya ragu kalimat-kalimatnya.

Aku selalu membanyangkan punya bapak yang ideal: laki-laki dengan kehangatan cinta kasih. Ia mungkin mengajak kami duduk di sofa ruang tamu dan menceritakan pengalaman-pengalaman lucunya saat muda.

”Bapak dan mama jumpa di depan TK Hanna Blindow. Saya pikir, mamamu itu mengantar anaknya. Masa masih muda punya anak TK, mama yang mengejar bapak. Karena tidak tahan saya ajak mama menikah. Lalu kalian lahir...”

Semua tertawa. Tapi mama bilang sebaliknya. Tapi tidak pernah seperti itu, itu Cuma cerita teman saya. Yang saya temuo Cuma seorang bapak pemabuk, berjudi dan main perempuan. Sampai cerita itu berakhir dengan kejadian tragis.

* *

Aku menoleh. Tangan halus istriku memegang jari-jariku. Di sana aku melihat mata penuh cahaya. Wajah yang tetap cantk dan teduh. Karea dialah, aku tidak tumbuh menjadi seorang yang tak terkendali, sebagaimana diagnosis psikiater yang pernah merawatku. Ia menjadi istri, ibu, sekaligus temanku.

”Saya mau kamu memaafkan bapak” ujarnya lembut.

”Beliau mungkinterlampau banyak bersalah. Tapi beliau kini sekarat. Tak bisakah kita mengalah memaafkannya? Mungkin ini kali terakhir ia mendapatkan hadiah yang amat besar. Berkumpul dengan anak-anaknya dan kalian memaafkannya” Ujarnya lagi

Aku tak menjawab. Membiarkan pikiranku menerawang. Apakah aku terlampau kejam? Bapak sekarat.ia mengalami masa-masa suram dalam hidupnya. Kejatuhan usahanya, membuat mama menjadi korban yang paling besar. Mama meninggal. Bapak dituduh sebagai pelaku pembunuhan atas tewasnya mama. Mama ditemukan bersimbah darah di atas ranjang dengan patahan tombak hiasan di dada. Tidak diketahui alasan jelasnya, tetapi semua tuduhan tertuju kepada bapak. Saat itu bapak berdiri mematung di depan ranjang sambil memegang patahan laind ari tombak yang ada di dada mama. Bapak Cuma diam saat beberapa tetangga dan polisi meringkusnya.

Tuduhan kepada bapak semakin kuat, saat ditemukan bekas-bekas penganiayaan di sekujur tubuh mama. Sepertinya tidak ada alasan untuk tidak menuduh bapak. Bapak Cuma diam. Ia menatap kosong dan tak pernah mengelak tuduhan itu. Padahal seandainya semua tahu cerita sebenarnya.....

* *

Aku memandang tubuh-tubuh yang menjauh dari tanah pekuburan. Kara tak bicara sepanjang proses pemakaman. Ia mungkin membenciku. Aku tak pernah mengunjungi bapak. Tidak pernah bertemu dengannya. Bukan karena aku tidak mau memaafkannya, tetapi aku takut. Takut bertemu dengan bapak setelah semua yang kulakukan......

* *

”Lihat, aku berubah!”

”Benar.kamu tiba-tiba jadi aneh. Lihat ada benjolan di dahimu. Kamu mengerikan, Dani. Benjolan itu makin membesar, lalu mengeras. Ia jadi tanduk, Dani, tanduk yang besar”

”Ha....ha.... aku dapat rasakan, cermin. Aku hampir jadi setan. Hari ini.lihat sayapku.

Sayap yang hebar. Gagah sekali.ini luar biasa, cermin. Aku bisa terbang”

”Kamu mengerikan....”

”ha.....ha..... Aku terbang. Melesat dengan cepat. Seperti setan. Terus ke kamat bapak dan mama. Ada suara tangis mama. Sepertinya ia dipukul Bapak lagi. Isakannya membuat aku sedih. Ini harus diakhiri. Mama terlampau lemah, dan bapak harus diberi pelajaran.”

”Dani....?

Mereka tidak menyadari kehadiranku. Tidak perlu mengetuk pintu. Aku dapat menembus dinding. Lalu, seperti ang kurencanakan, aku mengambil tombak hias di dinding. Itu milik kakek. Katanya tombak itu pernah membunuh harimau. Tapi aku tidak membunuh harimau. Tombak itu agak berat. Bapak terlihat terperangah. Ia tidak sepeti orang yang kasar. Malah ia tampak ketakutan. Mungkin ia berpikir, ini mimpi. Mimpi buruk. Lalu mama menjerit.tubuhnya sempoyongan dalam pelukan bapak. Bapak sepertinya menyebut namaku berulang kali. Tapi aku tidak mendengar. Mama bersimbah darah. Tak ada jeritan di mulutnya. Ia mengerti cerita ini. Lalu terkulai. Mama meninggal. Mama meninggal.

* *

Sogol

Karya : Hendro Martono

Kepada petani tembakau di Madura

Kami anak-anak tembakau

Tumbuh di antara anak-anak batu

Nafas kami bau kemarau campur cerutu

Bila kami saling mendekap,

Kami berdekapan dengan tangan kemarau

Bila kami saling mencium,

Kami bercuman dengan bau tembakau

Langit desa kami rubuh seribu kali

Tapi kami tak pernah menangis

Sebab kulit kami tetap coklat

Secoklat tanah tempat kami

Menggali hati sendiri

Langit desa kami rubuh seribu kal

Tapi kami tak pernah menyerah

Sebab pada setiap pohon tembakau

Kami urai serat hidup kami

Pada setiap daun tembakau

Kami rangkai urat doa kami

(Jamal D. Rahman. ”Anak-anak Tembakau”.

Kompas, Jumat 6 April 2001. Hal. 36)


Matahari bangun pagi. Kunyalakan sebatang kretek. Kulipat koran bekas ini ketika Kang Sarno melintas dari arah samping rumahku. ”Methil, kang?” Kang Sarno Cuma menoleh sambil menyeringai.

Terlihat olehku, sebilah parang terselip di sela ikat pinggang. Tangan kiri menjepit kretek menyala. Tangan kanan menjinjing jerigen dua literan. Di bawah capingnya kains arung melilit leher, bersilang sampai di pinggang. Ini hal biasa, sebab aku pun sebentar lagi akan macak serupa, menyusul Kang Sarno. Cuma, ini kulakukan sebentar menjelang berangkat mengajar.

”Ngopi dulu, Kang!” aku mencoba menawarkan minuman kopi, meskipun aku tahu istriku belum menjerang air. Gula juga habis sore tadi.

Sekali lagi Kang Sarno Cuma menoleh, sementara langkahnya makin menjauh, meninggalkan debu, membawa sejumlah tanya.

Meskipun aku dapat menduga-duga, tak urung aku terkesiap melihat tingkahnya. Memang sudah pembawaan Kang Sarno berlagak demikian. Cuma, beberapa hari terakhir ini wajahnya nampak gelap. Sejak pemetikan kedua daun tembakau di ladangnya.

”Mas Guru, mbok aku dipinjami uang dulu,” katanya beberapa hari lalu, ”Buat persiapan Sri”

”Ada apa dengan Sri?”

”Sri akan kukawinkan”

”Lho! Bukankah Sri baru lulus kemarin?” tanyaku heran.

Sebagai mantan gurunya, aku tahu Sri baru saja lulus SMP. Karena prestasinya bagus, Sri pernah kusarankan untuk melanjutkan sekolah. Akus anggupi untuk membantu biayanya. Akan tetapi, Sri ketika itu tampaknya ragu-ragu. Entah apa yang dipikirkan. Mungkin ia sudah tahu rencana ayahnya.

”Mengapa terburu-buru, kang?”

”Lha wong sudah terlanjur, Mas Guru”

”Terlanjur bagaimana?”

”Mas Guru tahu, Lik Mar mendesakku terus agar segera menerima lamaran buat anaknya. Itu, lho, buat Manto yang bekerja di Jakarta. Katanya kalau lamarannya kuterima, utang-utangku akan dianggap lunas. Bukankah ini menguntungkan,Mas Guru? Bukankah ini dapat mengurangi bebanku?”

Gila! Ini pikiran gila, batinku.

”Sayang sekali, Kang”

”Sayang bagaimana, Mas Guru?”

”Sayang kalau Sri cepat-cepat kaukawinkan. Anak itu cukup cerdas dan sebenarnya pikirannya cukup maju. Mengapa tidak menunggu barang enam atau tujuh tahun. Biar sekolahnya mapan. Biar nanti mudah mencari pekerjaan. Kalaupun akhirnya kawin, ia benar-benar siap berkeluarga”

”Mas Guru seperti tidak tahu saja. Di desa ini kan Cuma Sri yang sempat mencicipi bangku SMP. Teman-temannya sudah banyak yang punya anak....”

Ya! Aku tahu. Bahkan Kang Sarno pun dulu cuma sempat duduk di bangku SD sebentar. Ketika aku baru lulus SMP, Kang Sarno sudah kawin. Tak heran kalau sekarang anaknya sudah remaja, sementara aku baru beberapa bulan lalu mempersunting istriku.

”Lagipula, ini kesempatan baik untuk melunasi utangku, Mas Guru. Yang penting sekarang ini aku butuh bantuan Mas Guru.”

”Sayang sekali, Kang!”

”Sayang apa lagi, Mas Guru?”

”Sayang aku tidak punya uang”

”Ah! Aku tidak percaya. Gaji Mas Guru pasti banyak. Bukankah Mas Guru selalu gajian setiap bulan?”

”Ah, kang sarno sok tahu saja. Kang Sarno tahu, guru seperti saya ini jarang punya uang”

”Tapi, tolonglah aku sekali ini saja, Mas Guru! Nanti kalau mbako-nya laku segera kulunasi”

Mbako-nya laku? Kapan lagi tembakau petani laku dengan harga layak? Seingatku, sejak empat tahun belakangan para petani di lereng Merapi dibuat frustasi. Kalaupun tidak gagal di tingkat harga jual, petani juga sering gagal pada masa tanam. Bahkan kalau diamati kondisi petani leih parah lagi, karena mulai banyak yang kehilangan tanah. Kang Sarno salah satu contohnya.

Aku ingat, sewaktu kecil dulu, sementara aku dan teman-teman sebaya masih bermain dengan kerbau, sapi atau kambing, Kang Sarno sudah punya thongkrongan sepeda motor. Kemana-mana Kang Sarno mengendarai moornya itu, sementara aku dan kawan-kawan Cuma dapat membaui asap knalpotnya.

”Ayo, kejar aku” kata Kang Sarno pada waktu itu, ”siaa yang dapat mengejarku, nanti aku boncengkan”

Kami pun beradu cepat mengejar Kang Sarno. Tentu saja meskupun napas kami sampai habis, Kang Sarno tak mungkin terkejar. Dan Kang Sarno tertawa-tawa gembira dengan permainannya. Kami pun ikut tertawa, meskipun getir, sambil menatap Kang Sarno yang semakin menjauh meninggalkan bau bensin.

Akan tetapi, tak terasa keadaan berubah cepat. Petani tembakau makin tak selalu menikmati rezeki berlimpah dari panennannya. Harga selalu fluktuatif. Tentu saja, nalarkau tak dapat menjelaskan sebab-sebabnya. Aku hanya dapat menyaksikan perubahan itu pada Kang Sarno, yang mungkin saja merepresentasikan kebanyakan nasib petani di desaku.

”dimana motormu kang?” tanyaku suatu hari, ketika berpapasan dengan Kang Sarno di Jalan.

Sejak masuknya ”Impor” daun tembakau dari Kendal, Boyolali, Pakis, dan Purwodadi, harga tembakau tak pernah beranjak dari lima ribu per kilogram. Padahal tahun 80-an pernah mencapai seratus ribu. Malah tembakau Srinthil bisa dihargai seratus delapan puluh ribu. Inilah agaknya yang membuat petani terobsesi setiap kali musim tanam tiba. Mereka berharap terjadi lagi panen raya dengan harga melambung. Tapi kenyataannya? Selama 4 tahun terakhir, yang melambung tinggi Cuma angan-angan petani, sementara harga jual tembakau semakin jatuh ke bumi.

Selain kelebihan pasokan, rendahnya harga beli dari para juragan –belakangan ini baru kuketahui- adalah munculnya tangan-tangan siluman yang ikut memainkan harga. Sejumlah partai politik lokal kabarnya kini menjadi pemungut pajak penjualan tembakau. Katanya buat ongkos operasional partai. Kata yang lain buat orang Jakarta untuk membatalakan peraturan pemerintah tentang pembatasan kadar tar dan nikotin beberapa waktu lalu.

(Aku tahu tembakau dari desaku mengandung kadar tar dan nikotin yang angat tinggi sehingga dengan terbitnya PP No. 81/1999 itu akan sangat merugikan para petani. Itulah sebabnya tempo hari para petani melakukan demo sampai ke Jakarta sampai kemudian terbit PP No.38/2000. itu pun belum memuaskan sehingga akhirnya pembatasan itu dibatalkan sama sekali dalam PP No. 19/2003).

Posisi petani makin terjepit pada harga produksi, mengingat makin mahalnya harga keranjang. Dengan kapasitas 60 kg tembakau kering, harga keranjang bisa mencapai sepertiganya. Inilah yang menarik minat para petani turut bermain dalam bisnis keranjang. Akan tetapi, ketika para juragan ikut campur dalam bisnis ini, kemarahan etani meledak. Puncaknya, sebulan lalu Pasar Pager Gunung membara.

Siang itu sehabis Dzuhur asap hitam terlihat jelas dari desaku. Desas-desus akan adanya serbuan ke sejumlah gudang milik para juragan memang cukup santer. Dan tak berselang lama, Kang Sarno muncul di halaman rumahku. Langkahnya terhuyung-huyung. Wajahnya berdarah-darah. Di belakangnya, beberapa lelaki kekar mengejarnya.

”Mas Guru, lindungi aku. Tolonglah aku, Mas Guru!”

Dengan jantung berdebaran kurengkuh tubuh Kang Sarno di pintu rumah. Napasnya tersengal-sengal.

”Apa yang terjadi, Kang?”

”Itu. Itu..... ” tangannya hampir terkulai menunjuk halaman. Kang Sarno rebah, lepas dari tanganku.

Kini kuhadapi beberapa lelaki kekar itu, sementara pra tetangga segera berkerumun. Kami semua hanya bisa bertatapan. Kutunggu reaksu para lelaki itu. ”Siapakah kalian ini?” tanyaku memecah ketegangan itu.

”Kami bekerja di gudang Koh Jiang. Kami mendapat laporan bahwa pasokan keranjang Koh Jiang di pasar dibakar orang. Setelah kami tiba, beberapa orang menunjuk ke arah orang itu. Karena itu kami mau menuntut pertanggungjawabannya.” jawab seorang sambil mengacungkan jari ke arah Kang Sarno.

”kalian mau membunuhnya? Kalian tidak menanyakan dulu apa sebabnya?”

”Koh Jiang memborong keranjang di desa-desa, Mas Guru.” sahut lik Merto, seorang tetangga, sambil menghunus parang,

”Malah saya dengar banyak pembuat keranjang yang mengijon pada Koh Jiang, Mas Guru”

Para lelaki kekar itu saling berpandangan di antara mereka.

”Kami tidak berurusand engan masalah itu. Kami hanya mengurus keranjang-keranjang yang dibakar orang itu.” jawab mereka dengan nada geram.

”Kalau demikian silakan kalian pulang. Katakan pada juraganmu, jika benar kata Lik Merto, mungkin saja gudang Koh Jiang malah akan terbakar!” kataku sedikit tersinggung.

Aku tahu, mereka pasti akan berhitung melihat tetanggaku memenuhi halaman dengan parang teracu di tangan. Karena itu kubiarkan saja mereka merenungkan kata-kataku.

Agustus hampir habis. Belum ada tanda-tanda kesepakatan antara petani dan juragan yang juga sebagai pemilik gudang. Saya kira, ini bukan hanya perkara pasokan tembakau yang selalu berlimpah. Pasti ini juga menyangkut pemberlakuan kuota dari para pemilik gudang itu. Tahun ini –kabarnya- Bentoel, Djarum, dan Gudang Garam mulai membatasi jumlah pembelian tembakau dari petani. Kabarnya pula, stok di Kudus, Kediri, dan Malang masih cukup untuk berproduksi selama 4 tahun ke depan.

Pernah saya dengar, sejumlah perwakilan petani tengah bernegosiasi dengan para juragan. Malah Pak Bupati dan anggota Dewan kabarnya telah mengumpulkan parajuragan itu dan mendesaknya agar menambah kuota pembelian. Meskipun demikian, aku yakin, selama tata niaga tembakau tak dibenahi tak banyak yang diharapkan oleh petani.

Selama pembeli masih memonopoli harga, nasib petani tak akan bertambah baik. Lebih-lebih karena para pembeli itu menggunakan standar harga yang sama untuk tiap jenis kualitas tembakau, sehingga pteni tak punya pilihan lain terhadap calon pembeli. Ini diperparah dengan munculnya pemain-pemain baru yang memasok tembakau dari luar kta sehingga petani tak punya posisi tawar yang kuat.

Sementar petani menunggu hasil negosiasi, diam-diam –entah ada yang menyadari atau tidak- proses pemiskinan dan pelaparan mulai menjalar sampai di desaku. Selama menunggu panenan terjual, makin banyak petani terjerat utang. Mang Ujang, bakul mindring, sore itu datang mengeluh kepadaku.

”Tolonglah saya Pak RT. Modal saya hampir habis. Saya kesulitan menagih utang orang-orang sini!” katanya agak mengiba.

”Mengapa harus saya, Mang? Bukankah saya tak punya urusan bisnis dengan Mang Ujang?” tanyaku.

”Pak RT kan orang berpengaruh. Pak RT bisa mendesak orang-orang sini untuk segera mengangsur. Kang Sarno itu malah sudah setahun belum membayar cicilan sama sekali. Setiap kali saya tagih, Kang Sarno malah mengacungkan parangnya!”

”Mang Ujang juga tahu, kan, sudah lama kami kesulitan uang. Coba tebak, siapa hari ini yang masih makan nasi? Saya jamin tak ada lagi orang makan nasi!”

Mang Ujang Cuma termangu. Lalu merentangkan kedua tangan dan mengangkat bahu. Kubiarkan Mang Ujang berlalu, menembus debu yang berterbangan tertiup angin kemarau. Desaku meamng tengah meradang. Ladang-ladang meranggas. Tanaman tembakau tinggal menyisakan daun protholan. Sogol-sogol mulai mengering, sebentar lagi layu.

Kuingat kembali nasib Kang Sarno. Sekilas masih terbayang semburat kekecewaan di wajahnya. Wajah yang selalu terbakar matahari,menyembulkan otot di kedua keningnya, mengguratkan kehidupannya yang berat. Malah kalau kukatakan terus terang –ini sebetulnya menyangkut wadi Kang Sarno- sendi kehidupannya mulai goyah sejak kepergian istrinya. Pergi bersama lelaki kota karena tak tahan menanggung beban hidup keluarga Kang Sarno. Tapi aku memang tak dapat berbuat banyak.

September tinggal sehari. Langit pagi makin terang. Kutarik isapan terakhir rokok kretekku. Aku baru akan beranja ke dapur, mengambil parang dan menyusul Kang Sarno, ketika orang-orang ribut di jalan.

”Kebakaran! Kebakaran!” beberapa orang berseru.

Aku pun bergegas keluar rumah. Memandangi arah yang mereka ributkan. Ah! Itu memang kebakaran. Langit terlalu dekat jika dianggap baru menerbitkan matahari. Asap yang tebal meyakinkan aku bahwa itu bukan ampak-amapak. Aku terkesiap. Jika memang kebakaran, pasti berasal dari lembah di balik bukit sebelah. Mungkin dari ladangku. Atau...........

”saudara-saudara, marilah kita mendekat!”

Dengan nafas tersengal, setelah melewati sebuah bukit kami sampai pada sumber api. Aku tergetar. Persis di sebelah ladangku, sogol-sogol bertumbangan, terserak di mana-mana. Di tengah ladang, api masih menyala. Lidahnya setinggi orang dewasa. Samar-samar di antara asap ada bayangan menggeliat.

* * *

Sogol : Batang tembakau yang hampir mengering setelah habis dipanen daunnya

Srinthil : Jenis tembakau istimewa, tidak selalu muncul pada setiap musim tanam; mempunyai kepekatan tinggi dibanding tembakau biasa; oleh pemilik gudang, srinthil biasa ditaruh pada lantai untuk mempengaruhi aroma tembakau.